Wisata Hiburan di Kota Paris van Java

Wisata Hiburan di Kota Paris van Java

Wisata Hiburan di Kota Paris van Java. Ada banyak cara menikmati kota Bandung, mulai dari wisata kuliner sampai wisata belanja. Tapi di antara objek-objek wisata yang Instagram-able dan komersil, ternyata Paris van Java juga masih memiliki banyak tempat keceriaan dengan harga yang sangat kerakyatan.

Siang hari setelah wisata sejarah Belanda bersama Komunitas Aleut, saya iseng keluar hotel yang berada di Jalan Braga untuk menikmati malam minggu di Bandung.

16.00 – Gedung Sate

Saya mengawali malam minggu di Bandung dengan berkunjung ke Gedung Sate. Gedung yang menjadi ikon kota Bandung ini masih terlihat masih sangat kokoh dan megah, terutama pada malam hari.

Di menaranya ada sirene penanda perang yang konon katanya bisa meraung hingga jarak 60 kilometer. Gubernur Hindia Belanda pada masa itu biasanya membunyikan sirene jika ada tanda-tanda penyerangan yang datang dari musuh.

Untuk bisa masuk hingga menara puncak, saya harus kembali lagi pada pagi keesokan harinya, sebab hanya 70 orang pertama yang diperbolehkan naik, itu pun hanya hari Sabtu dan Minggu.

Pada sore hari, lapangan ini digunakan warga untuk jogging plus makan Bakso Cuankie setelah jogging. Gedung ini juga jadi saksi bisu pemberontakan warga pasca kemerdekaan untuk mengusir Belanda yang pada saat itu masih kekeuh menempati kota Bandung.

Kawasan di sekitar Gedung Sate terlihat cukup ramai pada hari Sabtu. Terletak di seberang Gedung Sate ialah lapangan Gasibu.

Bakso Ikan Express

Di Simpang Dago, saya berjalan hingga daerah Jalan Merdeka dan menemukan Mall Bandung Indah Plaza (BIP) yang ramai dikunjungi orang. Jika jalan-jalan ke Bandung dan melewati Jalan Merdeka, bisa sempatkan membeli Bakso Ikan Express yang sudah berjualan selama 21 tahun.

Harga satu porsi bakso ikan Rp10 ribu terdiri dari satu bakso besar, tiga bakso kecil, dan tiga tahu.
Bisa juga meminta isian bakso lebih banyak. Tapi bagi saya, satu porsi baksonya sudah sangat mengenyangkan.

Namun kedatangan saya ke Jalan Merdeka tentunya bukan untuk mengunjungi mall yang banyak digandrungi mojang Bandung itu. Saya mencari Bakso Ikan Express yang sudah ada sejak tahun 1999 di sana.

Dari BIP, kira-kira 200 meter dekat simpang lampu merah, bisa terlihat roda gerobak berwarna coklat dengan asap dari rebusan bakso yang mengepul. Cocok menjadi cemilan perjalanan, apalagi suasana Bandung malam itu gerimis dan berangin.

Alun-alun Bandung

Sepanjang jalan ini saya menemukan banyak pedagang jajanan kaki lima, seperti gorengan, cilok, cimol, es cendol, sampai es dawet. Di samping itu banyak juga penjual yang menjajakan tas, sepatu, aksesoris gelang, jam tangan, bahkan ada juga tukang tato sampai tukang ramal.

Sayangnya saya perlu antre cukup panjang untuk bisa diramal, sedangkan cuaca hujan dan perjalanan saya masih cukup panjang malam ini. Halaman masjid menggunakan rumput sintetis sehingga saya perlu melepas sepatu untuk bisa memasuki kawasan Alun-alun Kota Bandung.

Banyak anak dan orang tuanya memilih untuk berteduh di masjid pada malam itu, sehingga pemandangan di halaman cukup sepi.
Saya memutuskan lanjut berjalan lebih jauh ke daerah kawasan Jalan Asia Afrika yang terlihat cukup ramai.

Di Alun-alun Bandung berdiri Masjid Agung Bandung. Halaman masjid biasa digunakan untuk bermain anak-anak dan tempat santai para pengunjung.

Jalan Asia Afrika dan Braga

Kawasan Asia Afrika terlihat ramai. Satu hal yang mencuri perhatian saya adalah banyaknya ‘hantu’ di sepanjang jalan.

Hantu yang saya maksud adalah orang-orang dengan kostum Kuntilanak Merah, Nyi Roro Kidul, Suster Ngesot, hingga kostum Dewa Kematian. Mereka juga berakting menyeramkan sehingga banyak orang yang dibuat takut dan kabur.

Selain tiga wahana yang saya sebutkan tadi, ada juga permainan khas pasar malam, seperti dart, tangkap ikan, hingga tembak target berhadiah smartphone. Namun hingga tengah malam, saya tak menemukan orang beruntung yang bisa membawa pulang smartphone tersebut.

Warung Nasi Ce’mar

Di Warung Nasi Ce’Mar, pelanggan mengambil sendiri makanan yang diinginkan. Saya mengambil nasi, gulai daging sapi serta tumis kacang merah ditemani teh tawar panas.

Dari tempat duduk saya, saya bisa melihat lalu lalang pengunjung di kawasan Braga-Cikapundung, juga bianglala yang sempat saya naiki tadi.
Warung Nasi Ce’mar buka mulai pukul 19.00 hingga 04.00 WIB setiap harinya.

Jalan Braga

Di sini banyak gedung-gedung peninggalan Belanda yang tidak terawat. Bahkan salah satu gedung tertua di Braga sudah ditumbuhi pohon dan rumput liar karena tidak mendapat perawatan.

Karena sudah seharian wisata sejarah di Bandung bersama Komunitas Aleut, malam minggu di Bandung saya akhiri di Jalan Braga dan langsung pulang ke hotel yang tak berada jauh dari sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *