Tantangan BWF Gelar Turnamen Badminton di 2020

Tantangan BWF Gelar Turnamen Badminton di 2020 300x169 - Tantangan BWF Gelar Turnamen Badminton di 2020

Tantangan BWF Gelar Turnamen Badminton di 2020

Tantangan BWF Gelar Turnamen Badminton di 2020, – Federasi Badminton Dunia (BWF) sudah menyusun kalender badminton untuk paruh akhir 2020. Berikut tantangan yang bakal dihadapi BWF dan panitia lokal tiap negara untuk menyelenggarakan pertandingan.

Pada bulan Agustus, Hyderabad Open dan China Master Super 100 jadi agenda awal dari seri turnamen BWF. Setelah itu jadwal turnamen makin padat memasuki bulan September, Oktober, November, hingga Desember.

Kesulitan soal izin makin mendapat ujian ketika turnamen badminton BWF memiliki jadwal padat. Dalam rilis BWF, jadwal turnamen yang dijadwalkan bakal berlangsung padat tanpa diketahui jangka waktunya.

Berikut sejumlah tantangan yang dihadapi oleh BWF untuk menyusul sejumlah kompetisi olahraga lain seperti Bundesliga dan UFC yang sudah lebih dulu menggelar roda kompetisi:

1. Izin Tiap Negara Berbeda

Turnamen badminton BWF berbeda dengan Bundesliga. Penerapan Bundesliga lebih mudah dari segi izin lantaran itu merupakan kompetisi domestik. Ketika pihak berwenang termasuk pihak kesehatan sudah memberikan izin, mereka bisa berjalan.

Sementara untuk turnamen BWF, BWF harus bisa menunggu izin tiap negara untuk memperbolehkan panitia setempat menggelar pertandingan. Hal ini akan sulit bagi BWF dan panitia setempat lantaran pengurusan izin butuh proses dan peninjauan berkali-kali sebelum izin tersebut tembus.

Sulit bagi tiap negara untuk langsung memberikan izin mengingat tiap atlet berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Daftar Joker388 casino slot

Salah satu kompetisi yang serupa dengan turnamen badminton BWF adalah MotoGP. Sejauh ini MotoGP belum terlaksana dan dalam kabar terakhir Inggris memilih untuk tidak menggelar MotoGP Inggris tahun ini. Seiring dengan banyaknya penundaan dan pembatalan, MotoGP 2020 belum berjalan saat ini.

2. Ratusan Peserta Terlibat Pertandingan

UFC sudah menyelenggarakan pertarungan yang melibatkan banyak petarung dari berbagai negara. Namun jumlah petarung yang terlibat hanya sekitar 20-30 orang. Sedangkan untuk turnamen badminton, peserta bakal mencapai lebih dari 200 orang.

Bila berhitung tiap nomor diikuti 32 orang untuk nomor tunggal dan 64 orang untuk nomor ganda, bakal ada 256 atlet yang terlibat. Belum lagi bila menghitung jumlah pelatih hingga ofisial pertandingan.

Social distancing harus diterapkan dengan baik namun hal ini terbilang sulit mengingat jadwal turnamen badminton sangat padat, terutama di babak pertama.

Protokol kesehatan yang diterapkan tentu harus lebih ketat dengan pemeriksaan berlapis dan berkala. UFC sendiri bahkan menggelar tes PCR hingga empat kali sebelum ajang tersebut digelar.

3. Tak Dihitung Poin Olimpiade

Salah satu tantangan lain adalah turnamen-turnamen yang ada di paruh kedua kompetisi tahun ini adalah turnamen-turnamen yang diselenggarakan tidak masuk dalam perhitungan poin menuju Olimpiade.

Hal itu mengurangi urgensi pemain untuk ikut turnamen dalam paruh akhir kompetisi tahun ini. Dengan jadwal yang padat, muncul kemungkinan tiap atlet bakal selektif memilih turnamen lantaran tak ingin mengalami cedera jelang Olimpiade tahun depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *