Pendapatan Mal Masih Seret Setelah Buka Kembali

Pendapatan Mal Masih Seret Setelah Buka Kembali

Pendapatan Mal Masih Seret Setelah Buka Kembali, – Sejumlah mal terpaksa harus menutup sebagian tokonya imbas penyebaran virus corona (COVID-19) yang semakin merajalela. Hal ini membuat pendapatan bisnis ‘nyungsep’.

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan beberapa bisnis. Seperti salon, bioskop, pusat hiburan, sudah tidak memiliki pendapatan sama sekali.

Asosiasi Persatuan Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengungkap pendapatan pusat perbelanjaan masih seret. Sejak buka di tengah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Bear (PSBB) pada Juni lalu.

Dewan Pembina APPBI Handaka Santoso menyatakan evaluasi yang dilakukan menunjukkan penjualan barang atau jasa dan pendapatan dari menyewakan gedung kepada tenant masih rendah.

Meski tak bisa memukul rata semua mal. Namun ia menyebut secara rata-rata pendapatan pusat perbelanjaan berkisar hanya 40 persen hingga 50 persen dari normal.

Selain mal yang tutup, bisnis tersebut tidak bisa membuka jasa online sehingga tidak ada pemasukan selama mal ditutup.

“Kalau salon mungkin sekarang ada jasa telepon terus datang, tapi kan jarang. Orang lebih banyak menahan dulu karena melihat situasi,” sebutnya.

“Kami para pengusaha retailer atau mal berusaha bisa secara konsisten dan disiplin menjaga agar tidak sampai ada yg melanggar protokol kesehatan, tapi salesnya (penjualan) masih 50 persen, malah ada yang mencapai 40 persen (dari normal),” katanya kepada https://superbandar.live/, Selasa.

Namun, Handaka menilai jumlah pengunjung tak bakal meledak kalau pun tak diberlakukan pembatasan pengunjung. Karena, masyarakat masih enggan datang ke mal selama pandemi virus corona belum teratasi.

Oleh karena itu, Handaka berharap pemerintah dapat mendukung para pengusaha pusat perbelanjaan. Ia menyebut pihaknya tak minta muluk-muluk, meski mengapresiasi kebijakan pemerintah meringankan biaya listrik, namun itu saja dinilainya tak cukup.

Ia mengungkapkan bahwa sudah tepat kebijakan pemerintah memberikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada pekerja formal yang bergaji Rp5 juta. Bantuan ini disebutnya membantu beban pengusaha.

Hanya saja, ia menyayangkan mekanisme penyaluran yang lambat dan bertahap. Seharusnya, menurut Handaka, BLT dapat ditransfer sekaligus agar tidak ada kebingungan untuk pekerja dan pengusaha akan kapan bantuan bisa dikantongi. Apalagi, bantuan memang dibutuhkan sekarang.

“Harapannya pemerintah mengetahui situasi kamu dan terus mendukung, kan kemarin karyawan gaji di bawah Rp5 juta sudah dibantu Rp600 ribu. Itu segera saja jangan sedikit-sedikit,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga berharap pemerintah dapat konsisten dalam mengimplementasikan protokol kesehatan. Ia menyayangkan implementasi yang tak merata. Percuma menurutnya jika di tempat tertentu, seperti mal, protokol dijaga ketat namun di tempat lain protokol kesehatan tak ditegakkan.

“Seharusnya ini bisa dicontoh oleh pemerintah, kami di mal mendenda karyawan yang tidak disiplin. Pemerintah harusnya ketat dan tegas, jangan ada yang bergerombol,” pungkasnya.