Pandemi Corona dan Balada Utang Argentina

Pandemi Corona dan Balada Utang Argentina

Pandemi Corona dan Balada Utang Argentina – Rio de la Plata Kota yang permai dan damai ,sungai yang melintasi Buenos Aires, ibukota Argentina.

Rio de la Plata adalah sungai perak. Pantulan sinar matahari dari sungai itu memang seperti perak yang memikat mata. Tidak terlihat sampah sepanjang mata memandang, di muka Restoran Rodizio, Puerto Madero. Kawasan ini merupakan bekas pelabuhan yang menjelma menjadi pusat bisnis dengan deretan gedung bercorak modern.

Bisnis menyambangi Buenos Aires pada 2018 saat kota berpenduduk 12 juta jiwa itu menjadi tuan rumah pertemuan G20. Dua tahun lalu, Argentina lolos dari jerat utang karena uluran tangan Dana Moneter International (IMF). Presiden Mauricio Macri meneken perjanjian pinjaman dengan IMF senilai US$56 miliar setelah perekonomian Argentina terhuyung.

Produk domestik bruto (PDB) kontraksi minus 2,4 persen. Inflasi melambung 34 persen. Bunga acuan bank sentral menembus 40 persen. Kurs peso terhadap dolar AS amblas 52 persen.

Pada 2016, dua tahun sebelum mufakat terjalin dengan IMF, Argentina mendapat kucuran dolar dalam jumlah besar. Macri yang terpilih sebagai presiden pada 2015 mendapat sambutan hangat dari pelaku pasar, terutama pemegang obligasi Argentina.

Macri dinilai lebih pro bisnis ketimbang pendahulunya, Cristina Fernández de Kirchner yang dinilai terlalu banyak melakukan intervensi dalam kebijakan ekonomi. Salah satu campur tangan yang kontroversial ialah membentuk bicentennial fund untuk melunasi utang dengan memakai cadangan devisa.

Setelah Macri terpilih, prospek Argentina yang mulai pulih membuat Negeri Tango kembali berutang dengan menerbitkan Century Bond atau obligasi bertenor seratus tahun. Obligasi ini terbilang laku sebab mengalami kelebihan permintaan 3,5 kali. Argentina menjadi negara ke-14 yang menerbitkan Century Bond sejumlah US$2,75 miliar dengan yield 7,9 persen per tahun.

Cerita utang Argentina ialah saga. Di 2001, Argentina gagal membayar utang senilai hampir US$100 miliar, sebuah torehan yang memecahkan rekor. Saat itu, Argentina benar-benar tidak punya uang buat membayar kupon obligasi.

Restrukturisasi akhirnya dimulai pada 2005, mencakup 76 persen dari obligasi yang gagal dibayar, sejumlah US$62,5 miliar. Argentina mengajukan diskon pokok pinjaman 25-30 persen.

Sejak saat itu, Argentina mulai mencicil sebagian kewajibannya. Tetapi , ada pemegang surat utang yang mewakili 7 persen obligasi keukeuh untuk meminta pembayaran penuh. Kelompok 7 persen ini akhirnya membawa ke jalur hukum dengan klausul pari passu (perlakuan sama).

Dilansir dari The Atlantic, kelompok ini sudah mendesak permintaan itu di pengadilan selama lebih dari satu dekade. Pada Februari 2012, Hakim Distrik A. Thomas Griesa memutuskan bahwa Argentina tidak bisa membayar kreditur pertama -yang menerima restrukturisasi- tanpa membayar kelompok 7 persen sebab melanggar perlakuan setara.

Argentina akhirnya tidak bayar lagi pada 2014 karena posisi terjepit. Argentina dihadapkan pada kelompok 7 persen dan kelompok 93 persen. Setiap pelunasan penuh kepada kelompok 7 persen akan memicu tuntutan yang sama dari kelompok 93 persen.

Seluruh niat negosiasi ulang tahun 2000 – 2010 bisa berantakan  sekaligus dan menciptakan kewajiban tambahan sebesar US$100 miliar.

Argentina kemudian menyandang peringkat selective default dari lembaga pemeringkat S&P, Caa1 dari Moody’s, dan RD dari Fitch. Simbol itu pada intinya menempatkan peringkat utang Argentina pada kualitas yang buruk.

Dikutip dari worldgovernmentbonds.com, obligasi Argentina tenor 10 tahun diperkirakan menghasilkan yield 29,470 persen. Angka itu tidak berasal dari pasar, tetapi dihitung dari perbandingan obligasi sejenis yang tersedia di pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *