MRT Target Rampung Maret 2025

MRT Target Rampung Maret 2025

MRT Target Rampung Maret 2025, – PT MRT Jakarta menargetkan pembangunan fase II akan rampung pada Maret 2025. Direktur utama MRT Jakarta William Sabandar mengatakan pembangunan sudah dimulai setelah dikeluarkannya surat dimulainya pembangunan kepada kontraktor.

Sebelumnya, pengerjaan MRT fase II sempat tertunda karena sebagian tenaga kerja didatangkan dari Jepang serta Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Memang tiga bulan kemarin tidak ada kegiatan, otomatis waktu pekerjaan dimulai Juni. Jadi kalau Juni mulai, dihitung itu akan selesai pada Februari atau Maret di 2025,” ucap William di Sudirman, Jakarta Pusat.

Seluruh konstruksi fase II sendiri akan dibangun di bawah tanah dan akan membentang sekitar 7,8 km dari Bundaran HI hingga Kampung Bandan. Di proyek terowongan CV201 dari bundaran HI hingga Harmoni, diperkirakan bakal ada sekitar dua ribu pekerja yang dilibatkan.

“Di CV201 saja itu nanti ada dua ribu pekerja dan bertahap pelan-pelan dipekerjakan, memang. Karena ini masih masa pandemi jadi benar-benar kami jaga protokol kesehatan,” tutur William.

William memastikan proyek tersebut aman di tengah pandemi Covid-19, sehingga perusahaan akan memastikan status kesehatan para pekerjanya terlebih dahulu.

“Kami akan menjamin tempat proyeknya (aman) dan tempat domisili pekerja itu nanti domisili di mana kami akan lihat,” pungkasnya.

PTMRT Jakarta (Perseroda) menyatakan Pemerintah DKI Jakarta mengurangi subsidi untuk mereka pada tahun ini.  Direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan dengan pemangkasan ini, subsidi yang digelontorkan kepada perusahaannya hanya sekitar Rp700 miliar.

“Memang kami tanda-tanganinya sedikit terlambat. Itu PSO mengcover operasi MRT baik pemeliharaan sarana maupun prasarana dari Januari ke Desember 2020. Memang nilainya turun dari total 825 miliar, kemarin sekitar 700-an miliar,” ujarnya di Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu

Sebagai informasi pada Pemprov DKI Jakarta merencanakan PSO MRT Jakarta sebesar Rp948,59 dalam Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2020.

Jumlah itu meningkat dibanding 2019 yang hanya Rp672 miliar. Namun itu belum termasuk dengan utang subisidi yang perlu dibayar Pemprov pada 2020. Namun proyeksi anggaran dalam KUA-PPAS tersebut kembali dipangkas menjadi Rp825 miliar.

Meski terjadi pemangkasan subsidi, William memastikan tak akan mengerek tarif tiket MRT. Pasalnya, tingkat okupansi penumpang turun drastis selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Ia mencatat semenjak kebijakan itu diterapkan jumlah penumpang MRT yang Januari 2020 masih bisa mencapai 85 ribu per hari, turun tinggal menjadi 5 ribu sebesar 94,11 persen pada pertengahan April 2020.

Meski demikian, pemangkasan subsidi oleh Pemprov DKI Jakarta kemungkinan masih bisa berubah bergantung seberapa kuat APBD DKI menambal selisih biaya tiket dan operasional kereta tersebut. Wiliam mengatakan nilainya subsidi bisa berkurang atau bahkan bertambah.

Ia juga yakin okupansi penumpang akan kembali meningkat di kisaran 65 ribu orang per hari seiring dengan dilonggarkannya PSBB di Jakarta dan beroperasi normalnya perkantoran di sepanjang Sudirman-Thamrin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *