Latihan Militer di Laut China Selatan

Latihan Militer di Laut China Selatan

Latihan Militer di Laut China Selatan –  Amerika Serikat meminta China menghentikan latihan militer di Laut China Selatan. Kementerian Pertahanan menganggap latihan militer di perairan yang disengketakan itu akan semakin “membuat kawasan” tidak stabil.

“Kemhan AS prihatin dengan keputusan Republik Rakyat China melakukan latihan di sekitar Kepulauan paracel di Laut China Selatan pada 1-5 Juli,” kata Pentagon melalui sebuah pernyataan pada Kamis.

Pentagon memaparkan latihan militer yang dilakukan China ini merupakan “serangkaian aksi terbaru” Negeri Tirai Bambu “untuk menegaskan klaim maritim yang melanggar hukum dan merugikan negara-negara Asia Tenggara di Laut China Selatan”.

Laut China Selatan memang menjadi wilayah rawan konflik setelah Tiongkok mengklaim hampir 90 persen perairan kaya sumber daya alam itu. Klaim tersebut tumpang tindih dengan sejumlah negara yang memiliki zona ekonomi eksklusif (ZEE) di Laut China Selatan seperti Vietnam, Malaysia, Filipina, Brunei, hingga Taiwan.

Begitu juga kecaman dan kritikan dilontarkan Filipina dan Vietnam terhadap latihan militer yang digelar China di Laut China Selatan yang menjadi sengketa. Kedua negara itu memperingatkan China bahwa tindakannya bisa memicu ketegangan di kawasan dan berdampak pada hubungannya dengan negara-negara tetangganya.

Menurut pengumuman Otoritas Keselamatan Maritim Hainan, China menjadwalkan latihan militer selama lima hari mulai Rabu waktu setempat, di dekat Kepulauan Paracel. Vietnam secara khusus diketahui memiliki klaim tumpang-tindih dengan China atas Kepulauan Paracel.

Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana, menyebut latihan militer yang digelar China di perairan dekat Kepulauan Paracel itu ‘sangat provokatif’. Meski Filipina tak mengklaim Kepulauan Paracel, latihan militer China di luar wilayah perairannya itu tidak bisa diterima.

“Itu sangat mengkhawatirkan, kami melihatnya dengan kekhawatiran,” ucap Lorenzana dalam pernyataannya. “Melakukan itu di area-area yang menjadi sengketa kemudian itu akan, Anda tahu, memicu kekhawatiran bagi seluruh penggugat,” imbuhnya.

“Itu sangat provokatif,” tegas Lorenzana.

AS mendesak semua pihak untuk menahan diri dan tidak melakukan kegiatan militer “yang dapat mematik perselisihan” di kawasan itu.

“Kami akan terus memantau kegiatan militer China di Laut China Selatan,” ujar Pentagon seperti dilansir AFP.

Menurut AS, latihan militer China itu menyalahi kesepakatan Tiongkok dengan negara ASEAN yang tertuang dalam deklarasi perilaku atau Declaration of Conduct (DoC) 2002 terkait Laut China Selatan.

DoC memuat kesepakatan bahwa seluruh pihak bersengketa terutama China dengan negara Asia Tenggara yang memiliki sengketa di Laut China Selatan untuk tidak melakukan kegiatan yang menimbulkan eskalasi di perairan itu.

Latihan militer dilakukan China di tengah ketegangannya dengan AS terus memanas terkait pandemi virus corona (Covid-19), di mana Washington menuduh Beijing menyembunyikan fakta terkait asal mula penyebaran virus di Kota Wuhan.

Selain itu, AS-China juga terus membalas tanggapan terkait isu pengesahan Undang-Undang Keamanan Nasional Hong Kong baru gagas Beijing yang dinilai sejumlah pihak semakin mengekang otonomi wilayah khusus tersebut.

China juga semakin agresif mempertegas klaim historisnya atas Laut China Selatan sejak awal tahun. Pemerintahan Presiden Xi Jinping terus mengerahkan puluhan kapal ikan dan kapal patrolinya ke Laut China Selatan hingga menimbulkan friksi dengan Malaysia, Vietnam, bahkan Indonesia pada awal Januari lalu.

Meski Indonesia mengaku tak memiliki sengketa wilayah dengan China di Laut China Selatan, aktivitas kapal ikan dan kapal patroli Tiongkok yang sempat menerobos ZEE Indonesia di dekat perairan Natuna kian mengkhawatirkan Jakarta.

Baru-baru ini, kapal China juga menyerang kapal ikan Vietnam di wilayah Laut China Selatan yang diperebutkan kedua negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *