Kerugian Ekonomi Lebanon Usai Ledakan di Beirut

Kerugian Ekonomi Lebanon Usai Ledakan di Beirut

Kerugian Ekonomi Lebanon Usai Ledakan di Beirut, – Pada Selasa 4 Agustus, menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan lainnya. Sehari setelah ledakan dahsyat mengguncang Beirut, banyak warga yang terbangun pada Rabu 5 Agustus dengan amarah dan trauma.

Lebanon berada dalam situasi yang sangat sulit. Tidak hanya harus menghadpi pandemi Virus Corona COVID-19 yang masih berkembang, Lebanon juga harus menghadapi hiperinflasi, bahkan krisis kelaparan.

Ledakan dahsyat yang menurut pejabat Lebanon disebabkan oleh 2.700 ton ammonium nitrat yang disimpan di pelabuhan itu, telah meratakan sebagian besar ibu kota. Bahkan, jendela-jendela rumah yang jauh berada dari lokasi ikut hancur akibat gelombang kejut dari ledakan yang luar biasa.

Ledakan besar yang terjadi di Pelabuhan Beirut, Ibu Kota Lebanon pada Selasa lalu diyakini banyak pihak bakal memperparah kondisi ekonomi Lebanon. Sebelum adanya ledakan tersebut, situasi ekonomi di Lebanon sudah cukup suram.

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksi ekonomi Lebanon bakal anjlok hingga 12% akibat lonjakan harga pangan di sana, mata uang yang runtuh dan adanya pandemi COVID-19.

Rata-rata itu saja, sudah lebih buruk daripada rata-rata penurunan negara Timur Tengah dan Asia lainnya yang diprediksi bakal anjlok sebanyak 4,7%.

Sebelum terjadinya ledakan besar di Beirut, negara itu sudah gagal membayar sebagian utangnya pada Maret 2020 lalu. Pekan lalu, lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investor Service kembali memangkas peringkat kredit Lebanon ke peringkat terendah. Sekarang posisinya sudah setara dengan Venezuela.

“Negara ini dilanda krisis ekonomi, keuangan, sosial yang institusinya juga sangat lemah, tampaknya tidak dapat diatasi. Jatuhnya mata uang dan lonjakan inflasi di sana kemudian menciptakan lingkungan yang sangat tidak stabil,” tulis Moody’s dalam pernyataan resminya.

Lebanon berusaha mendapatkan pinjaman US$ 10 miliar dari IMF, tapi ditolak dan pembicaraan itu terhenti bulan lalu.

Akibat adanya ledakan tersebut, IMF pada Kamis kemarin menyerukan persatuan nasional untuk mengatasi krisis di negara itu. Kepala IMF Kristalina Georgieva kemudian mengatakan pihaknya bakal menjajaki semua cara yang mungkin bisa mendukung rakyat Lebanon.

“Sangat penting untuk mengatasi kebuntuan dalam diskusi tentang reformasi kritis dan menerapkan program yang berarti untuk membalikkan ekonomi dan membangun akuntabilitas dan kepercayaan di masa depan negara,” kata Kristalina.

Ledakan di Beirut, katanya, akan menambah tekanan pada perekonomian Lebanon.

“Tidak ada satu apartemen pun di Beirut yang tidak terpengaruh, tidak satupun bisnis yang tidak terpengaruh baik etalase atau barangnya,” kata Menteri Ekonomi Lebanon Raoul Nehme.

Pelabuhan tempat ledakan terjadi adalah pusat maritim utama negara dan 60% aktivitas impor negara melewati pelabuhan ini. Pariwisata yang menyumbang hampir seperlima dari PDB Lebanon pada tahun 2018 lalu juga ikut terdampak atas ledakan tersebut.

“Ini bencana bagi Lebanon,” kata Kepala Federasi Pariwisata Lebanon.

Dia mengatakan tingkat hunian di hotel-hotel sudah merosot menjadi 5-15% karena pandemi COVID-19 dan konflik politik di sana. Ledakan itu bisa memperparah kondisi itu sebab 90% hotel di Beirut rusak parah akibat musibah tersebut.