Kasus COVID-19 Dunia – Amerika Latin Episentrum

ilustrasi virus corona istock  2 ratio 16x9 - Kasus COVID-19 Dunia - Amerika Latin Episentrum

Kasus COVID-19 Dunia – Amerika Latin Episentrum

Kasus COVID-19 Dunia – Amerika Latin Episentrum, – Salah satu Negara paling maju di dunia yaitu Amerika Serikat yang mana terjangkit Infeksi Virus Corona (COVID-19) pada dunia mencapai 32,1 juta kasus. Amerika Serikat masih ada pada peringkat satu dalam jumlah kasus positif dan kematian paling tertinggi di dunia. Banyaknya masyarakah pada negara Amerika Serikat yang kehilangan keluarga, maupun nyawanya sendiri.

Dapat terlihat dari berdasarkan adanya data Johns Hopkins University, Jumat (25/9/2020), kasus pada AS sudah mencapai 6,9 juta dan sebanyak 202 ribu meninggal. Sementara yang sembuh adalah 2,7 juta.

Kasus tertinggi selanjutnya berada pada India yang mencatat 5,7 juta kasus dan 91 ribu meninggal. Meski demikian, pasien sembuh pada India juga paling tinggi pada dunia, yakni 4,6 juta orang.

Negara-negara Amerika Latin juga tampak menjadi episentrum COVID-19. Terlihat,jumlah kasus pada negara mereka mendominasi daftar 10 negara dengan kasus tertinggi.

 

Melansirkan dari https://food-rules.com/ bahwa datanya adalah : Brasil (4,6 juta), Kolombia (790 ribu), Peru (782 ribu), dan Argentina (678 ribu). Totalnya sekitar 6,8 juta.

Sementara, kasus COVID-19 pada Rusia mencapai 1,1 juta. Kasus pada China terpantau masih stabil yakni 90 ribu saja.

Satgas COVID-19: Rapid Tes Metode Screening, Bukan Diagnosis

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menanggapi banyaknya pihak yang mempertanyakan keakuratan rapid test atau tes cepat Corona COVID-19. Wiku menyebut bahwa rapid test bukanlah metode untuk mendiagnosis COVID-19.

“Jadi rapid test itu merupakan metode screening bukan diagnosis,” ucap Wiku dalam keterangan pers pada Youtube Sekretariat Presiden, Kamis 24 September 2020.

Ia mengatakan, rapid tes COVID-19 masih pergunakan hingga kini sebagai salah satu syarat administrasi untuk perjalanan ke luar kota. Hal ini sesuai dengan peraturan Kementerian Perhubungan dalam rangka mencegah penyebaran virus corona.

“Pada dasarnya tes ini pergunakan untuk menekan jumlah pejalan yang tidak perlu atau nonesential mobility,” jelas Wiku.

Menurut ia, pemerintah masih mengupayakan skrining COVID-19 alternatif yang lebih baik dan akurat dalam mendeteksi COVID-19. Salah satunya, rapid swab dengan menggunakan antigen.

 

  • COVID-19
  • Amerika Latin
  • update 25 September
  • virus corona
  • Corona
  • Update Corona
  • Update Virus Corona COVID-19