Bisnis Fashion dan Kosmetik di Pasar Millennials 

Bisnis Fashion dan Kosmetik Menguasai Pasar Millennials

Bisnis Fashion dan Kosmetik di Pasar Millennials – Manusia rasanya ingin semakin cantik. Tuntutan tersebut menciptakan sebuah industri tersendiri yang mampu bertahan walau diterjang krisis sekalipun. Ya, industri kecantikan atau kosmetik kian merona dari masa ke masa.

Persaingan pengusaha meningkat setelah munculnya digitalisasi serta gaya hidup millennials yang konsumtif. Peluang ini dimanfaatkan pengusaha yang bergerak di bidang fashion dan kosmetik. Beberapa di antaranya adalah Tania Ray Mina (CEO dari  ZAM Cosmetics) dan Elidawati Oemar (CEO dari Elzatta Hijab).

Keduanya menjadi pembicara dalam Indonesia Millennials Summit 2020 pada panggung Hijrah bersama narasumber lain. Tentu saja, perjalanan mereka tidak berjalan dengan mudah. Berikut ini beberapa profil singkat Tania dan Elidawati dan bagaimana mereka berhasil mengembangkan bisnis hingga diterima masyarakat.

1. Bocoran pertama dari Tania perihal membangun bisnis adalah mencari ide yang paling dekat dengan keseharian agar lebih mencintai pekerjaan

Tania mencari ide bisnisnya dari yang paling dekat dengan keseharian perempuan. Ia memilih kosmetik dan skincare yang dikerucutkan lagi dengan brand aman untuk ibu menyusui.

“Pada saat itu, kita lihat yang paling dekat dengan keseharian kita adalah kosmetik dan skincare. Saya sih selalu berpatokan, kalau mau bisnis, cari sesuatu yang memang kita pahami dan kita sukai. Saat itu, saya pikir sama kakak dan adek saya, ‘Wah, memang kosmetik di Indonesia ini, memang yang halal, kita tahu lah pemainnya gak banyak’,” terangnya.

2. Persaingan produk kosmetik dan skincare bukan hanya dengan produsen lokal, tapi juga internasional

Tania optimis produk ZAM Cosmetics memiliki kualitas tinggi sehingga tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Ia percaya bahwa produknya akan diterima di masyarakat serta mampu memenuhi kebutuhan pasar Indonesia.

“Kalau baca-baca, katanya impor untuk kosmetik dan skincare nilainya sampai dengan 800 juta USD. Artinya, kebutuhan market di Indonesia itu memang masih belum bisa dipenuhi sama produsen lokal gitu,” pungkas Tania.

Kesempatan inilah yang dimanfaatkan olehnya untuk menguatkan daya saing di pasar dalam negeri.

3. Berawal dari permintaan pasar terhadap produk halal, Elidawati dan Tania mampu melihat peluang sehingga memutuskan membangun bisnis

Elidawati, CEO Elzatta Hijab, merintis bisnis fashion, khususnya hijab yang dimulai sejak lulus kuliah. Sebelumnya, Elidawati mencoba menghilangkan steorotip atau perspektif di masyarakat serta pemerintah tentang ketakutan mengenakan hijab setelah revolusi Iran.

“Selesai kuliah tahun 1988, saya membantu sahabat bikin usaha busana muslim. Saya membantu sahabat saya itu karena mau syiar. Jadi, gak mikir bisnisnya gimana, tapi gimana membantu orang untuk memudahkan mereka yang pakai kerudung mencari busana. Waktu itu mah susah. Kerudung itu ya cuma segi empat, sangat-sangat sederhana,” terang Elidawati.

Sementara Tania, CEO  ZAM Cosmetics, justru berlatar belakang sebagai pekerja kantoran. Kakaknya, Zaskia Mecca, yang lebih dahulu mengenalkan Tania dalam bisnis.

Kemudian, ia mulai mencari celah lain yang bisa dijadikan ide usaha. Setelah pada fashion, pilihannya jatuh pada komestik. Di mana pada saat itu, kosmetik memang sudah banyak. Namun untuk kosmetik halal dan aman untuk Ibu hamil, masih sedikit.

“Cari kosmetik dan skincare yang aman untuk ibu menyusui dan hamil itu susah. Rata-rata, itu semua datang dari luar negeri dan harganya bisa ratusan ribu menjelang one million,” pungkas Tania.

4. Sementara Elidawati mematenkan hijab Elzatta pada tahun 2012, kemudian ia mulai merambah bisnis lain seperti makanan dan travel

Pada tahun 1988, bisnis fashion hijab masih sidikit. Pada waktu itu, hanya ada beberapa nama seperti Ida Royani dan Anna Nur Faidah. Mengingat peluang yang terbuka lebar ini, Elidawati mulai membangun fashion hijab Elzatta.

Pada tahun 2012, merek itu baru dipatenkan. Namun jalan yang ditempuh untuk mematenkan hijab ini, tidak semudah yang dibayangkan.

“Bagaimana saya mau menghalalkan baju kalau bahannya di pabrik tekstil dan itu bukan milik kami? Kan masih harus halalkan pabrik tekstil itu dulu dan ekosistemnya begitu. Baru dari bahan sudah jadi, masuk ke kami. Oke, kalau dari kami proses sampai ke hilirnya bisa jaga atau jamin itu halal. Saya rasa itu penting banget untuk saya sampaikan. Saya tidak pernah menyatakan fashion Elzatta atau Dauky itu bisnis halal,” tambah Elidawati.

Perihal alasan Elidawati merambah ke dunia makanan dan travel adalah karena ia berpengalaman di bidang yang sama selama 21 tahun. Ia melihat bagaimana kehidupan karyawan serta bentuk kontribusi perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan.

“Karena pengalaman yang saya miliki langka, gak banyak orang bekerja 21 tahun di bidang yang sama, lalu saya juga punya relasi yang banyak. Gimana nih cara supaya apa yang saya miliki tetap berkontribusi untuk banyak orang? Dari situlah kemudian saya memutuskan buka usaha, dengan support keluarga. Dari awal jelas (tujuan buka usaha) bisa bermanfaat untuk banyak orang. Itu yang terus dikejar,” terang Elidawati.

5. Tips memulai usaha bagi millennials

Bagi Elidawati, memulai bisnis itu harus dikuatkan niatnya. Kemudian jalani saja dan fokus. Yang namanya usaha, pasti ada rugi dan untung.

“Pertama, benerin dulu niatnya. Jadi mau usaha untuk apa? Cari uang saja? Jadi diluruskan dulu niatnya. Kemudian, ya jalan aja. Jangan terlalu banyak teori. Ikuti, jangan takut rugi. Sunatullah, kita mau bekerja apa pun pasti ada turun naik. Sama juga kalau usaha pasti ada kegagalan dan keberhasilan. Terakhir, fokus,” tambah Elidawati.

Sementara Tania membeberkan kunci dari usaha yang berhasil itu adalah tentang konsistensi. “Untuk menciptakan konsistensi itu, kita harus senang menjalaninya karena itu akan menjadi keseharian kita,” pungkas Tania.

Setiap usaha memiliki risiko. Namun, kuncinya adalah bagaimana cara pengusaha itu tetap berpegang teguh pada nilai dan kualitas produk.

Karena dengan ini, produk secara otomatis akan diterima karena permintaan pasar yang menginginkan hal serupa. Semoga dua sosok pengusaha wanita ini bisa menginspirasimu dalam berkarya, ya!