Kerja Cepat Pemerintah Hadapi COVID-19

Kerja Cepat Pemerintah Hadapi COVID-19

Kerja Cepat Pemerintah Hadapi COVID-19, – Presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam pidato kenegaraan di sidang tahunan MPR RI tahun 2020 mengapresiasi langkah extraordinary para pimpinan dan anggota lembaga negara dalam menghadapi pandemik COVID-19.

Pemerintah harus berkerja cepat di tengah pandemik virus corona ini. Karena pandemik ini berdampak pada banyak sektor, mulai dari kesehatan hingga ekonomi.

“Kita harus melakukan reformasi fundamental dalam cara kita bekerja. Kesiap-siagaan dan kecepatan kita diuji. Kita harus mengevakuasi Warga Negara Indonesia dari wilayah pandemik di Tiongkok,” kata Jokowi saat memberikan pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR RI tahun 2020 yang digelar Jumat.

Jokowi mencontohkan pemerintah harus cepat menyiapkan rumah sakit, rumah isolasi, obat-obatan, alat kesehatan, dan mendisiplinkan protokol kesehatan. Semuanya, lanjut dia, dilakukan secara cepat dalam waktu yang sangat singkat.

Jokowi mengatakan pemerintah juga harus cepat menyediakan bantuan sosial bagi masyarakat melalui bantuan sembako, bansos tunai, subsidi dan diskon tarif listrik, BLT Desa.

“Subsidi gaji, membantu UMKM untuk memperoleh restrukturisasi kredit, memperoleh banpres produktif berupa bantuan modal darurat, dan membantu pembelian produk-produk mereka; membantu tenaga kerja yang menjadi korban PHK, antara lain melalui bantuan sosial dan Program Prakerja. Sesuatu yang tidak mudah,” ujar Jokowi.

Untuk itu semua, tambah Jokowi, pemerintah juga cepat melakukan perubahan rumusan program. Seperti menyesuaikan program kerja dengan situasi terkini, melakukan realokasi anggaran dalam waktu singkat, menerbitkan Perppu No.1 Tahun 2020, yang kemudian disetujui oleh DPR menjadi UU No.2 Tahun 2020, bersinergi dengan BI, OJK, dan LPS untuk memulihkan perekonomian.

“Krisis ini telah memaksa kita untuk menggeser channel cara kerja. Dari cara-cara normal menjadi cara-cara ekstra-normal. Dari cara-cara biasa menjadi cara-cara luar biasa. Dari prosedur panjang dan berbelit menjadi smart short cut. Dari orientasi prosedur menjadi orientasi hasil,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, pola pikir dan etos kerja juga harus berubah. Fleksibilitas, kecepatan, dan ketepatan sangat dibutuhkan. Efisiensi, kolaborasi, dan penggunaan teknologi harus diprioritaskan. Kedisiplinan nasional dan produktivitas nasional harus ditingkatkan.

“Jangan sia-siakan pelajaran yang diberikan oleh krisis. Jangan biarkan krisis membuahkan kemunduran. Justru momentum krisis ini harus kita bajak untuk melakukan lompatan kemajuan,” pesan dia.